Oleh : Yudha Saputra - Praktisi Pers
Setiap tahun, ribuan orang tua menitipkan harapan mereka pada sistem penerimaan murid baru. Mereka percaya bahwa pendidikan masih menjadi ruang paling mulia untuk mengukur kemampuan, kerja keras, dan prestasi.
Mereka meyakini bahwa di hadapan aturan, semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing secara sehat.
Karena itulah sekolah negeri unggulan selalu menjadi tujuan, bukan hanya karena kualitas pendidikannya, tetapi juga karena keyakinan bahwa proses untuk masuk ke dalamnya berlangsung secara adil dan terukur.
Namun kepercayaan publik adalah sesuatu yang mahal. Ia dibangun bertahun-tahun, tetapi dapat runtuh hanya karena satu keraguan yang dibiarkan tumbuh tanpa penjelasan.
Ketika proses seleksi mulai melahirkan pertanyaan yang lebih banyak daripada jawaban, ketika masyarakat menemukan kejanggalan yang tidak mampu diterangkan secara terang benderang, maka yang sesungguhnya sedang diuji bukanlah kemampuan para peserta didik, melainkan integritas sistem itu sendiri.
Sekolah unggulan seharusnya menjadi benteng terakhir kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan. Sayangnya, dalam berbagai polemik penerimaan murid baru yang kerap terjadi di berbagai daerah, publik sering dipaksa berhadapan dengan situasi yang membingungkan.
Data terlihat rapi, prosedur tampak berjalan sebagaimana mestinya, tetapi di lapangan muncul cerita-cerita yang sulit diabaikan. Ada yang merasa dirugikan, ada yang mempertanyakan hasil seleksi, ada pula yang menaruh curiga terhadap proses yang berlangsung di balik layar. Mungkin semuanya hanya kesalahpahaman. Mungkin pula tidak. Persoalannya, ruang "mungkin" itulah yang selalu menjadi tempat paling subur bagi tumbuhnya ketidakpercayaan.
Ironisnya, lembaga pendidikan yang setiap hari mengajarkan nilai kejujuran kepada para siswa justru terkadang terlihat gagap ketika diminta menunjukkan transparansi kepada masyarakat.
Padahal keterbukaan bukanlah ancaman bagi lembaga yang bekerja secara benar. Sebaliknya, transparansi adalah cara paling sederhana untuk membungkam fitnah dan menghentikan spekulasi.
Hanya sistem yang merasa rapuh yang takut diperiksa. Hanya proses yang menyimpan masalah yang khawatir dibuka kepada publik.
Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Masyarakat tidak sedang menuntut keistimewaan bagi anak-anak mereka. Mereka hanya ingin memastikan bahwa tidak ada keistimewaan yang diberikan kepada orang lain. Mereka tidak meminta hasil seleksi diubah.
Mereka hanya meminta penjelasan yang masuk akal ketika muncul perbedaan antara fakta di lapangan dan hasil yang diumumkan. Sebab pendidikan adalah ruang yang seharusnya bebas dari segala bentuk privilese, titipan, kedekatan kekuasaan, maupun permainan yang mengorbankan rasa keadilan.
Kita tentu berharap semua proses berjalan sesuai aturan. Kita ingin percaya bahwa tidak ada manipulasi data, tidak ada penyalahgunaan jalur penerimaan, tidak ada campur tangan pihak-pihak yang merasa memiliki kuasa lebih besar daripada regulasi. Namun kepercayaan publik tidak lahir dari harapan semata. Kepercayaan lahir dari keberanian untuk membuka diri terhadap pengawasan.
Semakin tertutup sebuah proses, semakin besar pula kecurigaan yang akan muncul. Dan ketika kecurigaan telah tumbuh menjadi keyakinan di tengah masyarakat, memulihkannya jauh lebih sulit daripada menjelaskan persoalan sejak awal.
Ada sebuah sindiran yang terdengar pahit namun layak direnungkan: di negeri yang sehat, orang mencari sekolah terbaik untuk anaknya, tetapi di negeri yang sedang kehilangan kepercayaan, orang mulai mencari siapa yang paling berpengaruh agar anaknya diterima. Tentu tidak ada yang ingin pendidikan kita berada pada titik itu.
Sebab jika suatu hari masyarakat lebih percaya pada kedekatan daripada kemampuan, lebih percaya pada akses daripada prestasi, maka yang gagal bukan hanya sistem penerimaan murid baru, melainkan seluruh cita-cita pendidikan yang selama ini kita banggakan.
Pada akhirnya, sekolah unggulan tidak diukur dari tingginya nilai para siswanya, megahnya gedung, atau panjangnya daftar prestasi yang terpajang di dinding. Sekolah unggulan diukur dari kemampuannya menjaga kepercayaan publik.
Sebab prestasi dapat dicetak setiap tahun, tetapi kehormatan hanya lahir dari integritas. Dan ketika publik mulai bertanya, jawaban terbaik bukanlah pembelaan yang bertele-tele, melainkan keterbukaan yang jujur.
Karena sekolah yang benar-benar unggul tidak akan pernah takut pada transparansi, sebagaimana kebenaran tidak pernah takut pada pemeriksaan.
_11zon.jpg.png)
_11zon.jpg.png)